Calon Istri hidayat Seorang Dokter, Tak Menyangka Disambut Heboh

Mei 1, 2008

setelah beberapa bulan menduda, Hidayat Nurwahid Menikah Lagi

10 Mei mendatang akan menjadi hari penting bagi Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Dia memutuskan untuk menikah lagi, setelah istrinya, Kastian Indrawati meninggal dunia Januari lalu. Sosok baru yang akan mendampinginya bernama Diana Abbas Thalib. Seorang dokter yang memiliki garis keturunan Arab. RUMAH bertingkat dua yang berada di kawasan Kemang Selatan IV, Jakarta Selatan, itu, sore sekitar pukul 17.15, kemarin, tampak lengang. Di balik pagar berwarna hitam, terlihat dua mobil-Suzuki APV silver dan Mercy hitam- terparkir. Ada juga dua sepeda motor.

Semua terasa normal. Sama sekali tak ada tanda-tanda kalau malamnya, di rumah itu, baru saja berlangsung acara lamaran (hitbah). Padahal, sang empunya rumah, dr Diana Abbas Thalib baru saja dipinang Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid, salah satu pemimpin nasional di negeri ini. Acara hitbah terhitung istimewa. Sebab, dihadiri juga oleh para Wakil Ketua MPR, seperti Aksa Mahmud, Mooryati Soedibjo, dan AM Fatwa.

Wartawan Jawa Pos (induk Jambi Independent) nyaris tidak bisa menemui Diana. Seorang pria yang mengaku saudara dari pembantu di rumah itu menolak memberi izin. ’’Saya mohon maaf. Ibu sedang keluar. Saya nggak tahu kemana,’’ katanya dari balik pagar. Tak percaya begitu saja dengan penjelasan tersebut, wartawan Jawa Pos memutuskan tetap menunggu, setelah memberikan kartu nama.

Sekitar 10 menit kemudian, dari dalam rumah, muncul seorang wanita berbaju hitam yang ternyata saudara Diana. Dia mengatakan, Diana bersedia diwawancarai asalkan tidak difoto. ’’Terus terang perlu waktu untuk seperti ini. Artinya, saya sih tidak ada masalah kalau mau ditanya rencana pernikahan. Tapi kalau menyangkut yang terlalu pribadi, perlu waktu bagi saya,’’ ujar Diana membuka percakapan di ruang tamunya. Hiasan gelas-gelas kristal di atas meja, tampak serasi dengan satu set sofa berwarna hitam. Baru setahun terakhir, dia tinggal di rumah itu.

Mengapa tidak bersedia di foto? ’’Sebaiknya jangan dulu deh. Kalau nanti sudah resmi berkeluarga dengan Pak Hidayat ya,’’ jawab Diana yang mengenakan baju kurung berwarna biru dan jilbab merah marun itu. Dia mengaku tidak menyangka ada respons publik, khususnya media atas rencana pernikahannya dengan Hidayat begitu besar. ’’Nggak mengira bakal secepat ini. Padahal, acara hitbah kemarin cuma dihadiri keluarga dan teman dekat. Nggak tahu mengapa bisa jadi heboh begini,’’ katanya lantas tersenyum.

Diana yang beranak satu itu telah bercerai dari suami sebelumnya. Namun, dengan tegas dia menolak untuk menceritakan kejadiannya secara detil. Bahkan, dia juga enggan mengatakan tempat dan tanggal kelahirannya. ’’Jangan dulu yang terlalu pribadi begitu ya,’’ katanya.

Dia hanya bersedia sedikit menceritakan perihal putra tunggalnya yang bernama Nizar Muhammad. ’’Nizar itu lahir 5 Maret 1994. Jadi, sekarang umurnya 14 tahun. Dia tengah duduk di kelas dua SMP,’’ tuturnya. Selain itu, wanita berdarah Arab itu mengakui kalau ayahnya berasal dari Pasuruan. Sedangkan ibunya, berasal dari Jawa Tengah. ’’Tapi, sudah sejak kecil saya tinggal di Jakarta,’’ ungkapnya.

Diana berprofesi sebagai Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah Pondok Indah. Setelah lulus sebagai dokter umum dari Fakultas Kedokteran UKI (Universitas Kristen Indonesia) pada 1990, dia mengambil gelar Magister Administrasi Rumah Sakit (mars) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia.

Selain memimpin Rumah Sakit, Diana juga sudah dua tahun aktif di Yayasan Rahmatan Lil Alamin. Yayasan yang berada di Jalan Batu Merah, Pasar Minggu, Jakarta itu bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan. ’’Saya menjadi ketua bidang sosial yang membawahi program operasi katarak dan website golongan darah rhesus negatif,’’ kisahnya.

Menurut Diana, dirinya baru tiga minggu terakhir mengenal langsung sosok Hidayat. ’’Sebelumnya, hanya ketemu di surat kabar saja,’’ katanya. Dia juga mengaku tidak pernah mengenal istri Hidayat, Kastian Indrawati yang telah meninggal dunia. Proses perkenalan (taaruf, Red) antara dirinya dengan Hidayat difasilitasi guru agamanya yang juga anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Yoyoh Yusro. ’’Saya diperkenalkan di rumah beliau di kawasan Pondok Bambu,’’ ceritanya.

Tahap demi tahap selanjutnya berjalan cepat. Mulai perkenalan antara anak-anak, sampai antar orang tua. ’’Setelah semua terlihat tidak ada masalah dan mendukung. Jawabannya iya, kami langsung hitbah atau lamaran,’’ celotehnya. Meski begitu, pada awalnya Diana mengaku sempat tidak berharap terlalu banyak. ’’Waktu itu saya berpikir simple saja. Sebuah kehormatan bisa bertemu Ketua Umum MPR. Jadi, ekspektasi saya tidak terlalu tinggi supaya beban moralnya juga tidak terlalu tinggi,’’ katanya.

Siap menjadi istri politisi ? ’’Pada saat memutuskan beliau, tentunya saya siap sebagai tugas istri pada umumnya, yaitu menjadi ibu rumah tangga dan mendukung setiap langkah suami,’’ tegasnya. Hidayat Nurwahid tak bisa menutupi rasa gembiranya menyambut hari bahagia rencana pernikahannya 10 Mei 2008. Senyumnya terus mengembang saat belasan wartawan mengucapkan selamat di ruang kerjanya, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta kemarin (15/4). ’’Benar, berita itu bukan gosip. Memang sengaja dilakukan dan sama sekali tidak iseng,’’ katanya mengkonfirmasi pertanyaan pers.

Sebelum berhasil ditemui di ruangannya, staf pimpinan MPR dan beberapa petugas keamanan sempat menahan wartawan untuk tidak masuk ke ruangan Hidayat. Beberapa pertanyaan aneh dilayangkan kepada wartawan. ’’Ini mau meliput apa? Mau tanya soal apa?,’’ tanya seorang staf. Rupanya gelagat wartawan yang akan mengkonfirmasi acara lamaran pada Senin malam (14/4) sudah ditangkap oleh Hidayat. Kebetulan, wartawan mempunyai alasan untuk meliput acara Hidayat yang menerima panitia perayaan 100 tahun M Natsir di ruangannya.

Acara terima tamu selesai. Hidayat tak punya pilihan untuk menghindari pertanyaan wartawan. Sesi penjelasan dimulai. Disinggung rencana pernikahannya, mantan presiden Partai Keadilan itu bercerita panjang lebar. ’’Paling saya ditanya bagaimana proses ketemunya kan? Soalnya sudah beberapa wartawan bertanya seperti itu,’’ cetus Hidayat “menembak” wartawan.

Penjelasan soal pertemuannya dengan Dr Diana Abbas Thalib, dimulai dengan menyebut nama anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Komisi VIII Yoyoh Yusro. Dialah aktor di belakang layar yang mempertemukan Hidayat dan calon istrinya. ’’Kira-kira sebulan yang lalu saya dikenalkan dengan beliau (Dr Diana) oleh Bu Yoyoh Yusro,’’ tutur ketua MPR mengawali.

Diana yang juga Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah Pondok Indah adalah salah satu murid ngaji Yoyoh. Pertemuan pertama dilakukan di rumah Yoyoh Yusro. Seperti proses ta’aruf dalam salah satu scene film Ayat-ayat Cinta, pertemuan tersebut dihadiri Hidayat, Yoyoh beserta suami, dan beberapa saksi di antaranya teman Dr Diana, bernama Dr Femmy. ’’Di situlah pertama kali saya bertemu beliau (Dr Diana, Red),’’ kisah jebolan Pesantren Gontor, Jawa Timur itu.

Setelah membaca pribadi masing-masing pada pertemuan pertama, Hidayat mulai mengomunikasikan figur calon istrinya itu kepada anak-anaknya, orang tua, dan mertuanya. Hidayat pulang ke Jogjakarta menemui orang tua dan mertuanya Gayung bersambut. ’’Dari pernyataan, pembicaraan, dan ekspresi mereka menyiratkan kalau mereka setuju,’’ ungkapnya dengan senyum mengembang.

Pertemuan antar anggota keluarga semakin intens. Bahkan pertemuan terakhir terjadi hari Minggu (13/4). Saat itu Hidayat mengajak putra keempatnya Hubaib Shidiqi berkunjung ke rumah Dr Diana di kawasan Kemang Selatan. Sore itu merupakan pertemuan pertama antara Hubaib dengan putra Diana, Nizar (14). Ternyata keduanya mempunyai hobi yang sama. ’’Mereka (Hubaib dan Nizar) sama-sama suka Moto GP. Sama-sama suka Valentino Rossi dan suka sepak bola. Saya sendiri suka nonton balapan motor atau F1 di TV,’’ tambahnya.

Nizar adalah putra satu-satunya Diana. Empat tahun lalu, wanita berdarah campuran Pasuruan-Pekalongan berusia 42 tahun ini bercerai dengan suaminya. Puluhan lamaran diajukan kepadanya tetapi selalu berakhir tanpa pernikahan. ’’Karena beliau (dr Diana) mempertimbangkan perasaan putranya. Menurut beliau, seringkali putranya tidak setuju dengan calon ayahnya,’’ kisah Hidayat. Setelah bertemu dengan Hidayat dan putra keempatnya hari Minggu, rupanya Nizar menemukan figur ayah dalam diri politisi asal Klaten ini.

Waktu perkenalan yang hanya sebulan dirasa cukup untuk meneruskan pada proses pemersatuan. Meski terkesan buru-buru, rencana pernikahan itu sudah dianggap sangat mendesak bagi keluarga kedua mempelai dan para kolega Hidayat. Menurut Hidayat, desakan untuk segera menikah sudah santer diajukan kepadanya sejak istri pertamanya Kastian Indrawati meninggal dunia. ’’Sebelum istri saya dikebumikan saja, sudah ada yang menawarkan lamaran. Pak Hidayat mau pilih yang hafal Alquran atau dokter?,’’ begitu Hidayat menirukan tawaran seseorang yang bersimpati kepadanya.

Sebagai duda berkualitas, tawaran lamaran tak pernah berhenti. Sampai-sampai salah satu surat masyarakat ke pimpinan MPR berisi penawaran seseorang wanita yang siap mendampingi Hidayat. ’’Dua hari setelah istri saya meninggal, mertua saya sudah meminta agar saya segera menikah. Karena beliau juga mengerti agama. Laki-laki memang tidak ada masa idah dalam Islam,’’ tandasnya. Selama tiga bulan menduda, sudah puluhan lamaran diajukan ke Hidayat.(Ridlwan) di Franchise dari jambi independent| 16-04-2008 |

Entry Filed under: Uncategorized. .

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Komentar Terakhir

Taufik di Kulit Kayu Manis, Jadi Pahit b…
edy di perang kato-kato di web-site p…
samsur by kerinci di Pemprov Jambi Ajukan 632 PNS, …
mely ovia rita di wisata
mely ovia rita di makanan
zu yusuf di bahaso
zu yusuf di bahaso
albert_semerap di perang kato-kato di web-site p…

jumlah pengunjung

Tulisan Teratas

Tulisan Terakhir

Halaman

Kategori Awan

ami taher Fauzi Si'in Hasil PILKADA Kerinci hukum Jambi kampanye Pilbup Kerinci Kerinci Kota Sungai Penuh KPUD Kerinci Money poliik PILKADA Kerinci opini Pikada kota sungai penuh pilkada kerinci Politik Proyek Di Kerinci Semurup Sengketa Pilkada sengketa pilkada kerinci Siulak Uncategorized

 

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip

Blogroll

Korps Barisan Rabbani

Referensi

Sarapan

Uhang Kito Ugo

?