PSK Berkeliaran di Kerinci

Jambi Barat:
Posted on Wednesday, January 07 @ 19:38:46 WIT by udink
SUNGAIPENUH – Pekerja seks komersial (PSK) terlihat berkeliaran di Kabupaten Kerinci. Dari pantauan Jambi Independent, hampir di setiap sudut kota Sungaipenuh, ada PSK yang kian bebas melakukan transaksi. Modusnya tidak lagi diam-diam.

Kondisi itu mendapat perhatian serius Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten kerinci. Ketua Umum MUI Kerinci Yunasril Ali usai pertemuan di Polres Kerinci mengatakan, praktik PSK merupakan penyakit masyarakat yang sulit dicegah. Namun kejahatan dan kemaksitan tentu tidak bisa dihapus begitu saja. Malah cenderung bisa bertambah dengan modus berbeda. “Kita sebagai orang yang menghormati nilai agama, tentu harus  memberantas penyakit masyarakat tersebut. Jangan pernah mau kalah dengan kejahatan,” tegasnya.

Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci itu menambahkan, MUI tak hanya tinggal diam dengan adanya perilaku PSK. MUI terus memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait penyakit masyarakat yang selama ini merajalela di Kerinci. “MUI terus melakukan kajian terkait penyakit masyarakat itu,” ujarnya.

Langkah konkret apa yang dilakukan untuk mengantisipasi PSK? Yunasril mengatakan, anggota MUI memberikan penjelasan kepada masyarakat di masjid soal bahaya prostitusi. Untuk menangkap PSK, ada pihak yang lebih berwenang. “Kita hanya mengimbau,” ujarnya.(eep)

sumber http://www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=10489

dendi:apo jadinyo kerinci kedepan jika pelacuran dibiarkan merajalela. itulah gunanya memilih pemimpin yang beriman….

apu gawe kayo nek, kayo bia ka bae  GENERASI MUDO kerinci hancur

Fauzi Si’in: Saya Tak Pernah Makan Uang Kayu

Thursday, 18 September 2008

SUNGAIPENUH – Pemerintah Kupaten Kerinci dalam hal ini Bupati Kerinci, agaknya sudah mulai kesal dengan sikap pemerintah pusat dan pihak dunia yang kurang memperhatikan ekonomi masyarakat Kerinci. Nada tinggi itu dilontarkan Bupati Fauzi Siin, di hadapan Gubernur Jambi, H Zulkifli Nurdin, Kepala Balai Besar TNKS, Suyatno Sukandar serta Pejabat Pemprov dan Muspida Kerinci di Kayu Aro, kemarin.

Bupati dalam ekspos masalah TNKS kemarin mengatakan, masyarakat dunia selama ini hanya bisa mengecek atau mencerca bahwa hutan atau kawasan TNKS telah dirambah. Tetapi, tidak memikirkan bagaimana manusia atau masyarakat Kerinci yang tinggal di kawasan TNKS yang setiap saat selalu menjaga kelestarian TNKS yang merupakan paru-paru dunia itu. Dikatakan  Bupati 52 persen dari luas wilayah Kerinci sudah dipatok sebagai TNKS, malah hanya tinggal 48 persen yang bisa diolah dan itupun termasuk di dalamnya areal pemukimam penduduk, pegunungan, lembah, danau dan lainnya. ‘’Bisa dibayangkan betapa sempitnya areal yang bisa diolah masyarakat Kerinci, sementara setiap saaat jumlah penduduk selalu bertambah,’’ katanya.

Dengan tegas Bupati mengatakan, selama ini sejak dirinya menjabat sebagai Bupati Kerinci tahun 1999 lalu telah menyuarakan untuk tetap melestarikan kawasan TNKS. Buktinya sampai saat ini pemerintah dan masyarakat Kerinci masih tetap komit menjaga kelestarian TNKS.  Ia menyebutkan pula, bukti lainnya bisa dilihat di Kerinci mana ada sawmill atau izin untuk mengolah kayu dan sebagainya. ‘’Ini menunjukkan saya tidak pernah makan yang namanya uang kayu,’’ tegas Bupati dua periode itu. Kalaupun ada masyarakat yang merambah hutan, katanya, kebanyakan itu juga dari luar Kerinci yang sengaja datang ke Kerinci dan melakukan perambahan hutan dan kawasan. ‘’Kalupun ada masyarakat Kerinci yang merambah itu dikarenakan faktor ekonomi yang menghimpit mereka,’’ terang Bupati. Dirinya sangat sepakat dengan Gubernur H Zulkifli Nurdin, untuk memperjuangkan konvensasi bagi masyarakat Kerinci yang selama ini telah menjaga dan melestarikan kawasan TNKS baik ke pemerintah pusat maupun ke dunia internasional atau WHO yang menikmati oksigen dari hutan dan kawasan TNKS di Provinsi Jambi ini.

Sebaliknya Gubernur Jambi, H Zulkifli Nurdin dalam pidatonya, juga sedikit marah dengan pihak luar yang tahunya menyalahkan masyarakat Kerinci khususnya dan Provinsi pada umunya. Terutama dalam kaitannya menjaga kelestarian hutan. Gubernur mencontohkan dengan kejadian atau kebakaran hutan beberapa waktu lalu di Jambi dimana hamparan lahan gambut terbakar dan menyebabkan beberapa negera seperti Malaysia dan Singapura ikut menikmati asap tebal itu. ‘’Ya, saya juga sempat marah waktu berpidato di Singapura ketika kita dituding mengekspor asap ke Negara mereka,’’ kata Gubernur.

Apakah selama ini, lanjutnya, pihak luar pernah memperhatikan masyarakat di Provinsi Jambi yang telah bersusah payah melestarikan hutan dan kawasan itu. ‘’Ketika datang bencana baru mereka minta pemerintah kita yang menyelesaikannya, sementara pihak luar asik-asiknya menghirup oksigen dari hutan yang ada di Provinsi Jambi ini,’’ tuturnya. Demikian pula halnya dengan masyarakat Kerinci yang sudah bersusah payah menjaga kelestarian hutan, dan masyarakat dunia harus bertanggung jawab besar untuk membayar konvensasi TNKS ini. ‘’Kalaupun ada masyarakat yang membakar itu tidak lepas karena urusan perut,’’ jelasnya.

Di hadapan muspida dan pejabat Pemprov kemarin, Gubernur menjelaskan pada malam tanggal 18 September ini, dirinya mengundang seluruh Bupati dan Walikota se Provinsi Jambi untuk membicarakan kebijakan pembangunan yang dilakukan di Provinsi Jambi ini agar satu konsep dan satu sikap. Termasuk di dalamnya membicarakan masalah memperjuangkan konstribusi TNKS ke pemerintah pusat dan dunia internasional atau WHO. (wdo)

sumber jambi ekspres

pengirim dendi setiawan